Aku Anak Indonesia, Sinetron yang Mendidik Setelah Sekian Lama Hilang
Sudah lama tidak menonton televisi Indonesia yang acaranya semakin hari semakin tidak jelas saja. Mulai dari acara reality yang penuh settingan, acara musik yang gak ada musiknya (karena kebanyakan guyonan host-nya, acara musik 3 jam ngecapraknya 4 jam :v), berita yang memihak kelompoknya sendiri dan saling menyalahkan, sampai sinetron yang isinya cinta- cintaan anak baru gede -_-“ duh, bikin sakit mata kalo nonton…
Walaupun seperti itu masih banyak acara televisi yang bisa jadi elternatif tontonan seperti tayangan acara kerohanian, dan acara- acara yang bisa menambah wawasan contohnya on the spot (walau kebenarannya terkadang patut dipertanyakan hehe), my trip my adventure dan masih banyak lagi. Tapi, untuk masalah sinetron menurutku baru kali ini ada sinetron Indonesia yang benar- benar memiliki nilai dan pesan yang besar terutama untuk generasi muda masa kini. Sinetron itu adalah Aku Anak Indonesia, karena selain dikemas dengan menarik karena menampilkan bintang- bintang muda alias ABG sinetron ini juga memberikan nasihat- nasihat serta jiwa nasionalisme.
Dengan menggunakan pemain muda sinetron ini membuat penontonnya (yang notabene masih dibawah umur) tidak merasa digurui atau diperintah oleh pemainnya. Karena biasanya di suatu sinetron atau film sosok yang memberikan petuah adalah sesorang yang sudah sepuh (berumur) sehingga menyebabkan penonton kurang memahami atau menangkap pesan moral yang disampaikan (ini menurutku ya :v).
Hari Kamis minggu ini adalah kali pertama aku benar- benar menonton sinetron ini dengan serius, biasanya aku cuma sekedar mengganti- ganti channel sambil menunggu gantian wudhu untuk sholat di mushola huehehe. Dan aku cuma menonton 1 scene aja, jadi jangan heran ya kalau aku kurang memahami nama pemainnya dan lain- lain, aku hanya suka jalan cerita dari sinetron ini. Hal ini juga didukung ibuku yang memang penikmat sinetron Indonesia, beliau mengatakan kalau cerita di sinetron ini memang bagus dan cukup mendidik walaupun ada cinta- cintaannya (teuteup -_-) dan kemarin sempet kena KPI juga.
Jadi di dalam scene yang aku tonton itu diceritakan mereka (para pemain) menemui seorang bapak yang sudah cukup lanjut usia bernama Bapak Warsito, saat melihat beliau pertama kali, terlihat seperti seorang tukang kebun yang hidup dalam kesederhanaan. Namun, siapa sangka ternyata beliau adalah seseorang yang sangat berjasa dalam menghijaukan kembali Indonesia. Beliau diceritakan telah melakukan penanaman pohon di lereng gunung serta di hutan- hutan di daerah Yogyakarta (yang menjadi latar cerita) selama 20 TAHUN! Sebuah pengabdian yang sangat mulia bukan ? dibandingkan aku seorang mahasiswa yang mengembor- gemborkan SAVE OUR EARTH but no action -____-
Disini juga diceritakan kakak dari Dinda Hauw (pemeran utama) merasa tidak adil karena jurnalnya tidak diakui, aku juga kurang ngerti karena gak nonton keseluruhan cerita (sedih :-() intinya dia merasa tidak dihargai. Nah setelah bertemu pak Warsito ini membuat kakaknya Dinda sadar bahwa yang dia inginkan ini salah. Sesorang yang telah mengabdikan diri untuk Indonesia selama 20 Tahun ini saja tidak pernah mengharapkan penghargaan apa- apa. Jangankan penghargaan, diketahui oleh pemerintahpun tidak. Diceritakan pula teman Dinda yang bernama Anto atau Atok (aku lupa :p) adalah anak paling pintar di sekolahnya. Dia ditawari untuk sekolah keluar negeri dengan syarat setelah lulus dia harus bekerja di perusahaan asing yang memberikan beasiswa itu, paket komplit bukan ? namun dia menolak tawaran menggiurkan tersebut dengan alasan dia tidak mau ilmunya dipakai oleh pihak asing dan tidak menguntungkan bagi bangsanya yaitu Indonesia, wih mulia banget kan ni anak *.*
Jaman sekarang sudah sangat jarang generasi hebat di Indonesia yang masih memiliki rasa nasionalisme tinggi seperti si Atok itu. Makanya, banyak generasi muda yang memiliki otak yang brilliant memilih untuk pergi meninggalkan Indonesia demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Maka dari itu, diakhir episode Aku Anak Indonesia hari ini Dinda Hauw menuliskan dalam buku catatannya bahwa manusia itu kebanyakan adalah orang yang egois mereka hanya ingin dihargai, dipuji, mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Mereka tidak memerdulikan lagi nasib bangsanya (terutama orang Indonesia) apakah bekerja dengan pihak asing itu akan memberikan keuntungan atau kerugian bagi bangsanya tidak ada dalam pikirannya. Mereka hanya mengejar uang, tahta, dan penghargaan yang semuanya adalah fana hanya didunia saja tidak dibawa mati. Namun dicerita ini ditekankan bahwa uang bukanlah sumber masalah tapi kecintaan manusia terhadap uanglah yang menjadi sumber masalah.
Memang jaman sekarang semua akan berjalan baik apabila ada uang. Meski begitu,apakah selamanya sistem ini benar ? ingatlah Tuhan telah membuat rencana rezeki kita, untuk halal tidaknya kita yang memilih. Lebih banyak kebaikan atau kemudharadannya kita yang memilih. Masihkah kita mendewakan uang ?
-Coretan ini dibuat tanggal 13 Agustus 2015-
-nailinu-







